Minggu, 15 Januari 2012

Kunci Menjadi Negara Indonesia yang Adil dan Makmur


Dari isi Pembukaan UUD 1945 Republik Indonesia, sangat jelas tujuan negara kita: merdeka, bersatu, berdaulat, adil dan makmur. Negeri ini sudah merdeka, bersatu dan berdaulat, tetapi masih jauh dari keadilan dan kemakmuran. Persoalan banyak bahkan semakin menggunung.

Dengan penduduk kira-kira 230 juta, pertumbuhan penduduk kira-kira 0.2 % per tahun, kurang lebih 300 suku, 740 bahasa daerah, daratan kira-kira 17500 pulau, sistem politik yang masih belum tertata dengan baik, ditambah dengan mudahnya sebagian besar masyarakat disulut oleh isu suku, ras dan agama (sara), kompleksitas permasalahan bangsa ini boleh disebut sempurna.


Kesempurnaan persoalan bangsa dikonfirmasi oleh persoalan-persoalan di lingkaran agama. Para pemimpin agama tidak takut dan percaya kepada Tuhan yang Maha Esa. Banyak yang memilih percaya sama dukun. Jemaah dibodohin; akal sehat disingkirkan dan solusi-solusi pragmatis dan instan dipromosikan. Taqwa kepada Tuhan yang Maha Esa, berpikir jernih, bekerja keras dan rajin, memiliki kejujuran bukan lagi hal-hal yang menarik dan penting.


Bukan hanya pemimpin agama, tetapi para politisi dan pejabat publik pun ikut menyemarakkan persoalan bangsa ini. Etika tidak lagi dihargai; uang dan popularitas jadi sasaran utama; dengan slogan 'demi untuk rakyat' para wakil rakyat mengelabui publik. Benar-benar sulit menemukan pejabat publik yang masih memiliki hati yang lurus dan sungguh-sungguh berjuang untuk kepentingan umum.
Para sosok di dunia pendidikan pun ikut serta menggemakan kerusakan negeri ini. Sistem pendidikan dibuat dengan falsafah Pragmatisme. Sasaran pendidikan bukan lagi pembangunan karakter anak didik yang taqwa kepada Tuhan yang Maha Esa, tetapi berapa banyak mata pelajaran yang harus diberikan untuk meraih kompetensi. Putra-putri Indonesia yang pintar punya kesempatan kecil untuk kuliah karena mahalnya pendidikan. Potensi anak didik jadi sia-sia. Mulai dari taman-kanak-anak sampai perguruan tinggi, uang mendominasi dunia pendidikan.

Tidak heran kalau persoalan negeri ini begitu kompleks. Spritualitas tersisish, identitas kabur, hilang kepercayaan diri, pendidikan semakin semrawut, hukum hanya kokoh di atas kertas, tapi lemah pada tataran eksekusi; korupsi, kolusi, dan nepotisme hampir hadir di semua lini. Persoalan menumpuk bahkan menggunung.


Masihkah putra-putri negeri ini mengamini cita-cita pendiri negeri ini? W.R. Supratman telah memberikan kunci untuk menjadi negara yang merdeka, bersatu, berdaulat, sekaligus adil dan makmur. Paling tidak setiap tahun gaung nasihat itu terdengar di seluruh pelosok negeri ini. Dalam syair lagu kebangsaan rahasia itu terungkap jelas. Putra-putri Indonesia ini harus membangun jiwa dan badannya. Pengembangan individu diutamakan dari pembangunan lainnya. Dengan kata lain, menilai tinggi kecerdasan merupakan kunci. Pendidikan yang baik dan benar- itulah langkah awal yang harus dilakukan untuk mencapai negeri nan jaya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar