Kamis, 06 Januari 2011

Kuncinya Pada Nilai Tambah

Salah satu kunci untuk menjadi pemenang dalam era globalisasi adalah sejauh mana bisa memberikan nilai tambah dari setiap proses produksi yang ada. Nilai tambah hanya bisa dilakukan oleh mereka yang kreatif dan inovatif. Untuk itulah setiap negara berkonsentrasi mengembangkan sumber daya manusia agar menjadi manusia yang berkualitas.

Pesan yang disampaikan Guru Besar Universitas Beijing Prof Lin Wei Xien kemarin di Jakarta pantas untuk menjadi perhatian kita bersama. Negara harus memberi kesempatan yang sama kepada warganya untuk berkembang dan selanjutnya memperbaiki kehidupan mereka.

Prof Lin memberi contoh bagaimana China sekarang ini mencoba mendorong kesejahteraan warganya yang tinggal di bagian Barat. Pemerintah Beijing sangat sadar kesenjangan antara warga yang tinggal di Timur dan Barat sudah begitu tinggi. Semua pembangunan yang diraih akan menjadi tidak ada artinya apabila masih ada yang miskin, karena pasti akan menimbulkan kecemburuan sosial.

Inilah yang sepantasnya menjadi perhatian kita bersama. Bagaimana potensi ekonomi yang luar biasa dari negeri ini tidak bisa diolah secara optimal karena kita tidak mampu memberi nilai tambah. Akibat kegagalan itu, banyak warga yang hidupnya tertinggal.

Langkah bagi perlu segera didorongnya reindustrialisasi menjadi sangat penting, karena dengan itulah kita dapat memperoleh nilai tambah. Semua komoditas yang dihasilkan bisa dibuat berlipat-lipat kali nilainya, ketika mampu kita berikan nilai tambah.

Contoh paling sederhana adalah dari produk kelapa sawit yang kita hasilkan. Paling jauh kita bisa menjual dalam bentuk CPO atau minyak goreng. Oleh negara lain, barang itu bisa diolah menjadi kosmetik dan itu nilainya jauh lebih mahal. Ironisnya, kosmetik itu masuk ke pasar Indonesia dan dibeli oleh masyarakat Indonesia.

Begitu banyak sumber daya alam yang kita hasilkan dan kita cukup puas dengan mengekspor dalam bentuk bahan mentah. Ketika kemudian komoditas itu diolah oleh bangsa lain, nilainya bisa beribu kali lipat dan hasilnya dinikmati oleh bangsa lain.

Menurut Prof Lin, kuncinya sekali lagi terletak pada pendidikan. Ia menunjuk bangsa India yang begitu tepat untuk berkonsentrasi pada perbaikan kualitas manusia, khususnya dalam penguasaan teknologi. Bahkan bangsa China membutuhkan dukungan ahli-ahli dari India ketika perlu mengembangkan  teknologi.

Apalagi ke depan, kawasan Asia akan menjadi pusat pertumbuhan ekonomi dunia. ASEAN + 10 (China, Jepang, Korea, India, Australia, Selandia Baru, Amerika Serikat, Uni Eropa, Rusia, Kanada) akan menjadi kekuatan dunia. Namun pilarnya akan berada di ASEAN + China, Jepang, Korea, dan India.

Indonesia yang berada di dalam pusat pertumbuhan ekonomi yang paling pesat di dunia tentunya tidak boleh ketinggalan. Prof Lin mengingatkan, dengan jumlah penduduk 230 juta jiwa dan pendapatan per kapita 3.000 dollar AS, perekonomian Indonesia tidak bisa dianggap kecil.

Kreativitas dan inovasi menjadi hal yang paling penting untuk diperhatikan. Segala sesuatu bisa menjadi lebih optimal apabila kita mampu mengembangkannya dengan kreativitas dan inovasi.

Salah satu yang bisa dijadikan contoh bagi pentingnya kreativitas dan inovasi dalam penyediaan sumber energi. Dengan semakin terbatasnya energi yang terbarukan, maka setiap negara memikirkan cara untuk menemukan sumber energi pengganti yang bisa terus menerus ada dan tidak  mengganggu iklim.

China misalnya mulai mengembangkan pembangkit listrik bertenaga surya secara besar-besaran. Untuk itu energi tenaga surya tersebut dikembangkan di dalam kompleks perumahan, sehingga bukan hanya menjadi lebih efisien, tetapi bisa menambah nilai estetika.

Melihat pusat kekuatan ekonomi yang ada di kawasan ASEAN serta Asia Timur, China sudah memikirkan untuk membangun jaringan kereta api yang menghubungkan China hingga Singapura sepanjang 6.800 km. Dengan menghubungkan 28 kota besar di kawasan itu, maka kesatuan ekonomi akan semakin terbangun.

Semua itu hanya bisa terealisasi apabila ada kemampuan untuk melihat jauh ke depan dan memanfaatkan semua peluang yang ada. Sebab pada akhirnya kesempatan untuk maju itu sebenarnya ada di depan mata, hanya persoalannya kita mampu atau tidak melihat dan memanfaatkan kesempatan itu.

Inilah tantangan yang kita hadapi sebagai sebuah bangsa. Mampukah kita menjadi pemenang dari globalisasi ini ataukah kita hanya menjadi penonton di pusat pertumbuhan ekonomi dunia ini? Jawabannya ada pada kita semua.